Kamis, 12 Agustus 2021

The Spirit Of The Writers

 


Sudah cukup lama tidak menulis bukan hanya malas mendera namun karena fisik kurang mendukung sehingga apa yang sekiranya pingin dicatat ataupun ditulis terasa hanya sebatas dalam pikiran dan angan-angan belaka. Malam sabtu tanggal 6 agustus ada pesan masuk dari mbak Anis Zuna yang menanyakan apakah ibu sudah daftar Webinar Literasi Nasional, dan saya balas belum daftar mbak, karena belum mengetahui tentang kabar tersebut. Memang seharian belum sempat buka WA group Sahabat Pena Kita tentunya ada beberapa informasi yang belum terbaca. Dengan mengikuti arahan dari Anis memalui chat akhirnya bisa mendaftar kegiatan Webinar tersebut yang diselenggarakan pada tanggal 7 Agustus 2021 pukul 08.00 wib dengan melalui zoom meeting yang linknya sudah dikirim sebelumnya. Seperti mendapat suntikan spirit sebelum jam 08.00 langsung buka link dan join via zoom yang ternyata sudah banyak anggota yang hadir pada pertemuan tersebut. Acara dimulai dengan diawali sambutan dari ketua umum Sahabat Pena Kita dilanjutkan sambutan ketua IGI (Ikatan Guru Indonesia), dilanjutkan sambutan dari Pembina Sahabat Pena Kita yaitu bapak Prof. Dr. Imam Suprayogo.

Ada beberapa hal yang bisa ditangkap dari apa yang disampaikan oleh beliau bapak Pembina bahwasanya agar tulisan kita itu enak, maka jangan menulis dengan pikiran tapi menulislah dengan yang punya pikiran dan yang punya pikiran itu adalah ruh yang ada di hati maka menulislah dengan memakai hati atau perasaan, bukannya mengabaikan pikiran dalam menulis tapi menulis dengan rasa jauh lebih enak ketika orang membacanya. Jadikanlah menulis sebagai hobby karena kita akan lebih merasa senang ketika menulis bukan malah sebaliknya menjadi beban. Dan jangan menulis hanya semata-mata untuk mendapatkan keuntungan secara materi saja, karena sejatinya katika kita menulis maka umur kita akan menjadi panjang, meski kita sudah mati namun tulisan kita akan selalu hidup dan dikenang orang. Sebagai Pembina Sahabat Pena Kita ketika beliau sering memberikan komentar maupun kritikan pada tulisan anggota namun jangan dianggap memusuhi karena namanya sahabat itu harus saling mengisi dan melengkapi bukan malah dibully ketika memberikan masukan atau kritikan terhadap suatu tulisan. Beliau mengapresiasi dua buah buku yang terbit dengan judul “Intuisi Mata Elang” dan Kitab Kehidupan” dengan harapan kita hendaknya bisa mengambil pelajaran dalam kehidupan.

Dalam bahasan Webinar kopdar ke 7 Sahabat Pena Kita menghadirkan dua orang narasumber yang cukup aktif dalam dunia penulisan yaitu; Prof. Dr, Rd, Mulyadhi Kartanegara dan Heri Hendrayana Harris atau biasa dipanggil dengan Gol A Gong sang Duta Baca Indonesia 2021-2026. Moderator memberikan kesempatan kepada nara sumber pertama yaitu Bapak Mulyadhi Kartanegara untuk menyampaikan beberapa pengalaman sebagai writer tentunya sangat menarik dan menjadi pelajaran sekaligus spirit bagi para penulis pemula yang masih labil dalam dunia tulis menulis. Menurut bapak Mulyadhi motivasi beliau dalam menulis diantaranya adalah untuk mengabadikan hidup, beliau mencontohkan seorang Plato meskipun oarangnya sudah meninggal berabad abad yang lalu, namun tulisannya tetap hidup. Kemudian motivasi menulis berikutnya adalah menyampaikan kebenaran, dalam hal ini kalau perlu juga dengan mengkritik. Menulis itu mengalir tidak ada tekanan karena menulis itu membahagiakan selain itu juga mengabadikan hidup dan menjadikan lentera hidup kita. Menulis itu dengan apa yang kita mengerti jangan menulis dengan apa yang tidak kita mengerti.

Lebih lanjut Prof. Mulyadhi menyampaikan bahwa menulis itu jangan menjadikan beban dan jangan pula mengharapkan sesuatu, ketika menulis ingin menjadi kaya maka ketika tidak bisa kaya dengan menulis maka dia akan berhenti menulis. Begitupula dengan menulis untuk menjadi terkenal maka ketika kita tidak terkenal maka kita akan berhenti menulis. Menurut beliau, menulis itu hanya transenden maksudnya bebas dalam menyampaikan ide dan gagasan secara alamiah dan mampu melampaui batas. Jangan lagi ada beban mental ketika menulis, karena ketika dengan beban mental maka akan terasa sulit untuk menulis, dan ketika menulis harus mampu mengukir kata dan harus juga menguasai grammar, kepekaan grammar sangat dibutuhkan dalam menulis agar tulisannya mudah di pahami orang. Dan jangan menunggu terkenal untuk menulis karena sesungguhnya manusia itu diberikan Allah beberapa potensi yang dapat dikembangkan.

Saat pemateri kedua sayapun tidak dapat mengikuti karena listrik padam dan hp secara kebetulan baterainya drop, sehingga malamnya baru dapat mengikuti lewat youtube yang linknya sudah dibagikan melaui group WhatsApp. Pemateri kedua yaitu dari bapak Gol A Gong sang Duta Baca Indonesia menggantikan Najwa Shihab, ada yang menarik dari beliau meskipun dengan keterbatasan secara fisik namun beliau mampu mengukir prestasi lewat tulisan dan karya-karyanya. Sebagai penggiat literasi Gol A Gong menyuarakan gerakan Indonesia menulis dengan Gempa Literasi. Dalam menulis gunakan metode jusrnalistik 5 W + 1 H ( What, Who, Where, When, Way) + (How) yaitu apa, siapa, dimana, kapan dan mengapa ditambah dengan bagaimana. Penulisan melalui riset akan menghasilkan sesuatu yang faktual selanjutnya membuat outline sekiranya rencana apa yang akan kita tuangkan dalam tulisan. Bapak Gol A Gong dan istri mendirikan Rumah Dunia dengan uang pribadi berupa sebagian dari honor dan penghasilan mereka digunakan untuk membangun dan membiayai Rumah Dunia. Di dalam rumah dunia dihuni oleh beberapa mahasiswa yang tidak punya tempat tinggal hanya numpang di mushola untuk dididik dan diarahkan menjadi seorang penulis.

Gol A Gong menyampaikan kepada anak asuhnya bahwa jangan membuat proposal tapi buatlah Money Follow Program karena dengan kita membuat program akan mendatangkan uang. Dalam rumah dunia ada beberapa program yang dijalankan antara lain berupa bisnis travel agen, Penyusunan naskah film pendek, Sinema TV atau video, orasi literasi, bazar buku, sembako buku, diskusi, pelatihan menulis dll. Dari travel yang beliau kelola mengajak jalan-jalan ke luar negeri seperti ke Singapura, Thailand, Philipphines, Kamboja dan India. Namun jalan-jalan yang dilakukan ya memang benar-benar jalan bukan naik kendaraan dan para traveler tidak diperbolehkan membawa hp karena memang dimaksudkan untuk lebih mengenal lebih dekat suasana di lokasi tersebut, yang nantinya akan dibuat bahan untuk menulis pengalaman selama dia mengikuti perjalan. Sepertinya sangat menyenangkan bisa traveling sambil menghasilkan karya tulis. Dan ada kata-kata yang paling berkesan dari beliau yaitu; “carilah pasangan seorang penulis” dan juga bukan seberapa banyak buku yang anda baca tapi seberapa banyak apa yang kita tulis.

Demikian kegiatan Webinar Literasi Nasional kali ini, apa yang bisa penulis tangkap dan pahami dari beberapa penyampaian para tokoh dan penggiat literasi sekiranya dapat menambah spirit literasi kita agar gempa literasi akan benar-benar terjadi di negeri ini. Semoga bisa istiqomah dalam menulis, dan janganlah menulis dijadikan sebagai beban namun jadikanlah menulis sebagai hobby karena dengan kesenangan menulis maka akan menjadi terbiasa. Salam Literasi

 

Tulungagung, 10 Agustus 2021/ 01 Muharram 1443 H

@Intokowati

#SahabatPenaKita

Jumat, 06 Agustus 2021

IN MEMORIAM Dr. H. ALI ROKHMAD, M.Pd

 


Tepatnya hari Ahad, tanggal 25 Juli 2021 pukul 16.15 wib. Bapak Dr. H. Ali Rokhmad, M.Pd Kepala Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI telah berpulang ke rahmatullah dengan tenang di RS Haji Jakarta. Tentunya kami merasa sangat kehilangan dengan wafatnya beliau yang cukup mengejutkan karena sebelumnya tidak mendengar kabar terkait sakit yang dideritanya. Penulis ingin menulis tentang sosok kepala Biro Perencanaan di blog ini bukan semata-mata karena sebagai pimpinan kami namun lebih jauh dari itu, sosok Pak Ali ini adalah inspirator kami dalam dunia tulis menulis, Beliau sering berpesan bahwa seorang planner harus dapat menulis, dengan dibuktikan bahwa setiap ada Perencana di Kementerian Agama akan  naik jenjang ke Perencana Madya maka wajib hukumnya untuk mengikuti uji kompetensi dengan memaparkan tulisan atau karyanya dibidang perencanaan, Beliau sendiri ikut menguji langsung dan ingin mengetahui apakah anak buahnya ini mampu untuk menulis dan mampu untuk mempresentasikannya di depan orang lain.

Di dalam setiap kesempatan untuk mengisi acara atau pembinaan pasti tidak lupa selalu mengingatkan untuk gemar membaca, sampai bilang kalau pingin baca-baca buku silahkan ke rumah saya karena di rumah saya punya perpustakaan yang cukup lumayan banyak koleksi bukunya. Kalian bisa baca buku apapun yang kalian suka. Spirit literasinya sangat tinggi dan mampu membuat banyak perubahan dalam barisan yang beliau pimpin. Renstra Kementerian Agama tahun 2015-2019 menurut beliau nggak nyambung antara satu dengan yang lain maka ada review perubahan Renstra dengan mengubah beberapa Indikator Kinerja Utama dalam Kementerian. Sebagai seorang penulis juga seorang editor buku atau majalah pasti untuk mengetahui kejanggalan sebuah tulisan atau karya akan terasa lebih mudah karena naluri alamiahnya memang sudah terlatih dan peka dengan tulisan yang dibaca. Maka dari itu ajakan untuk gemar membaca dan menulis selalu dikumandangkan dalam setiap kesempatan.

Publik speaking pak Ali sangatlah bagus dalam membangun kinerja di Kementerian Agama sehingga banyak anggaran-anggaran baik dari APBN maupun SBSN dan yang lain bisa didapatkan. Sebuah bentuk pembangunan citra Kementerian Agama agar tidak dipandang sebelah mata oleh Kementerian lain utamanya Kementerian Keuangan dalam mengawal tersalurkannya APBN untuk pembangunan infra struktur di bidang pendidikan juga bidang-bidang yang lain demi mewujudkan perbaikan pelayanan kepada masyarakat. Ketika kampus dan madrasah-madrasah infrastrukturnya terbangun dan tempatnya representative maka secara langsung masyarakat akan banyak melirik untuk menyekolahkan dan mengkuliahkan putra-putrinya di lembaga keagamaan karena selain mempersiapkan pembentukan manusia yang unggul juga memiliki karakter dan etika dalam bermasayrakat setidaknya begitu yang dipikirkan oleh masyarakat umum mengenai perbaikan dibidang pendidikan. 

Dan masih banyak lagi gebrakan-gebrakan pak Ali untuk mendongkrak popularitas Kementerian Agama yang tidak dapat penulis ceritakan secara keseluruhan. Jelasnya penulis ingin mengenang sosok beliau dengan tulisan ini, karena suatu saat ketika membuka memory tulisan di blog akan mengingatkan bahwa ada pimpinan kami yang bisa menjadi teladan bagi anak buahnya untuk menjadi lebih maju dan lebih baik dalam bekerja dan berkarya. Kapanpun punya kesempatan diingatkan untuk sering membaca dan menulis. Demikian sekelumit kisah tentang Kepala Biro Perencanaan kami, selamat jalan semoga Allah SWT menerima semua amal kebaikannya dan mengampuni dosa-dosanya.

 

Tulungagung, 27 Juli 2021

#intokowati

#SahabatPenaKita

Kamis, 24 Juni 2021

JEMAAH HAJI SABAR MENANTI

Keputusan pembatalan pemberangkatan jemaah haji tahun 2021 memang terasa sangat berat, padahal pemerintah sudah mengantisipasi dengan membuat beberapa sekenario proses mulai dari pemberangkatan sampai dengan kepulangan ke tanah air. Berbagai dokumen sudah dipersiapkan termasuk dokumen perjalanan paspor jemaah sudah dikumpulkan ke kantor wilayah sesuai dengan embarkasi masing-masing, termasuk juga perlengkapan jemaah haji dan petugas penyelenggara ibadah haji seperti gelang identitas jemaah haji, buku manasik dan perlengkapan petugas penyelenggara ibadah haji pada tahun 1441 H/ 2020 M. Semua dokumen dan perlengkapan nantinya akan digunakan pada waktu pemberangkatan jemaah haji tahun 2022. Persiapan manasik haji juga sudah dipersiapkan manakala sewaktu-waktu ada pemanggilan mendadak semua sudah siap namun begitu kepastian akan kuota jemaah haji Indonesia tak kunjung turun hingga mendekati prosesi pemberangkatan.

Pemerintah Arab Saudi mengumumkan jumlah kuota pemberangkatan jemaah haji Indonesia pada bulan Mei 2021 sebanyak 60.000 orang, dengan batas usia yang diperbolehkan yaitu 18 – 60 tahun, dan memenuhi standar protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh pemerintah Arab Saudi melalui Surat Edaran Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Penerapan stadar protokol yang ketat disertai dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam masa proses pelaksanaan haji di Arab Saudi menjadi pertimbangan tersendiri bagi pemerintah RI jika akan benar-benar memberangkatkan jemaah haji tahun 2021 selain kendala tehnis dengan rentang waktu yang sangat dekat dengan prosesi pelaksanaan juga kesehatan jemaah menjadi prioritas penting dalam rangka perlindungan terhadap jemaah haji yang berangkat. Dengan mempertimbangkan beberapa faktor tersebut akhirnya Menteri Agama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia nomor 660 tahun 2021 tentang Pembatalan Pemberangkatan Jemaah Haji Pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1442 H/ 2021 M.

Dengan batalnya pemberangkatan jemaah haji tahun 2021 banyak rumor yang yang berkembang di masyarakat dengan berbagai asumsi dan persepsi yang seolah-olah gagalnya pemberangkatan Jemaah haji karena anggaranya tidak mencukupi karena dana haji dipergunakan untuk pembangunan infrastuktur. Dalam hal ini penulis akan mengutip jawaban dari 9 pertanyaan dana haji dengan fakta dan data dari Badan Pengelola Keuangan Haji yang dirilis pada tanggal 7 juni 2021 Pertanyaan pertama adalah apakah pembatalan haji tahun 2021 karena keuangan haji..? dan jawabannya adalah tidak, alasan pembatalan haji yaitu Kesehatan, keselamatan dan keamanan Jemaah haji dasarnya (KMA 660/2021). Pertanyaan kedua apakah pemerintah/Kemenag/BPKH memiliki utang pembayaran pelayanan (akomodasi) di Arab Saudi..? tidak ada, dalam laporan keuangan (LK) BPKH s.d LK 2020 tidak ada catatan hutang dalam kewajiban BPKH kepada pihak penyedia jasa perhajian di Arab Saudi. Laporan Keuangan BPKH (2019 audited dan 2020 unaudited) bisa dibuka website BPKH http://bpkh.go.id/catagory/publikasi/laporan-tahunan/  Pertanyaan ketiga Apakah BPKH mengalami kesulitan keuangan dan gagal investasi..? jawabannya adalah tidak ada kesulitan dan gagal investasi, pada tahun 2020 BPKH membukukan surplus keuangan sebesar > Rp. 5 Triliun dan dana kelolaan tumbuh >15 % Laporan Keuangan BPKH 2020 (Unaudited BPKH). Pertanyaan keempat Apakah Investasi BPKH dialokasikan ke Pembiayaan Infrastuktur...? tidak ada, alokasi investasi ditujukan kepada investasi dengan profil resiko low moderate, 90 % adalah dalam bentuk Surat Berharga Syariah Negara dan sukuk korporasi. Pertanyaan kelima apakah ada fatwa MUI terkait dengan investasi infrastruktur BPKH..? jawabannya Tidak ada, yang ada adalah Ijtima Ulama 2012 Fatwa tentang pengembangan Dana Haji di instrumen perbankan syariah dan sukuk. Hasil ijtima ulama MUI 2012. Ke enam apakah BPKH melakukan investasi dana haji dengan ijin pemilik..? Benar, sudah ada ijin dalam bentuk surat kuasa (akad wakalah) dari Jemaah Haji kepada BPKH sebagai wakil yang sah dari Jemaah untuk menerima setoran, mengembangkan dan memanfaatkan untuk keperluan Jemaah haji melakukan perjalanan ibadah haji dan Surat Wakalah/Surat Kuasa Jemaah Haji. Pertanyaan ke tujuh apakah dana haji di bank syariah dijamin oleh LPS..? Jawabannya adalah Dijamin. Dana Haji milik Jemaah dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan jadi terlindungi dari gagal bayar Surat LPS nomor S-001/DK01/15 Januari 2020. Pertanyaan kedelapan apakah dana lunas tunda Jemaah haji mendapatkan nilai manfaat BPKH..? Jawabannya adalah Benar, Jemaah mendapatkan nilai manfaat dari dana lunas tahun 2020 dan 2021. Cek di VA.BPKH.GO.ID mengenai alokasi dana ke rekening virtual. Pertanyaan kesembilan atau terakhir apakah BPKH sudah diaudit BPK..? Sudah, dana haji di BPKH diaudit oleh BPK untuk LK BPKH 2018 & 2019 dengan opini WTP.LK BPKH 2020 dalam proses audit oleh BPK.

Jumlah calon Jemaah haji kabupaten Tulungagung sebanyak 982 orang yang tertunda keberangkatannya pada tahun 2021dan nantinya akan menjadi prioritas pemberangkatan Jemaah haji tahun 2022. Disitulah kesabaran dari para calon Jemaah haji yang batal berangkat pada tahun 2020 dan tahun 2021 di uji. Sejauh mana mereka semua mau menerima dan menyikapi kebijakan pemerintah tersebut, agar nantinya dapat dengan ikhlas menerima bahwasannya namanya ibadah haji memang benar-benar panggilan dari Allah SWT. Meskipun secara finansial, maupun secara jasmani mereka mampu menjalankan namun ada penghalang lain yang dapat membatalkannya tentulah niatan dan tekat yang bulat itu juga belum dapat terealisasi. Meski banyak isu dan juga rumor yang berkembang di masyarakat namun seyogyanya alangkah lebih bijak jika semuanya itu diserahkan kepada sang penguasa alam semesta, agar dalam menjalaninya menjadi lebih ikhlas dan ridho. Tidak ada niatan pemerintah RI dengan sengaja membatalkan pemberangkatan jamaah, karena semua sudah melalui proses yang panjang untuk membuat sebuah kebijakan yang menyangkut kepentingan umat. Selanjutnya yang dapat dilakukan hanyalah dengan berdo’a semoga pandemi segera berakhir dan dapat melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Wallahu a’lam bisshowab.

Salam Literasi

 

Tulungagung, 22 Juni 2020

Intokowati

#SahabatPenaKita

Kamis, 06 Mei 2021

SILATURRAHMI YANG TERTUNDA


Eforia menyambut hari raya sudah mulai nampak dengan banyaknya masyarakat yang sudah memenuhi pusat perbelanjaan dan toko-toko yang menjual kebutuhan pokok dan juga pakaian. Ramadhan kali ini tidak seperti tahun lalu dengan pembatasan kegiatan masyarakat untuk keluar rumah. Pemerintah melakukan pembatasan yang sifatnya masih longgar dan toleran dengan mengijinkan masyarakat untuk melaksanakan ibadah namun tetap menerapkan protokol kesehatan untuk menghindari munculnya klaster-klaster baru penyebaran Covid-19 di tempat ibadah dan fasilitas umum, dengan menerapkan kebijakan PPKM Mikro skala nasional. Selain itu larangan mudik juga diterapkan agar pergerakan masyarakat masih dapat dipantau dan dikendalikan. Penyekatan wilayah diterapkan agar pergerakan penduduk dari wilayah satu ke wilayah lain bisa dibatasi semaksimal mungkin.

Sepertinya manusia sudah mampu berdamai dengan situasi, entah karena sudah jenuh dan merasa lelah dengan kondisi akibat virus corona yang menyebar dan meluas tanpa terkendali, atau mungkin karena telah terbiasa dengan kehidupan di tengah-tengah pandemi. Sebagian masyarakat sadar bahwa melindungi diri sendiri adalah bagian dari jihad yang nyata. Berperang melawan mahluk Tuhan yang tidak tampak membutuhkan keberanian dan juga nyali yang tinggi layaknya menghadapi bom dan jenis senjata yang sangat mematikan. Vaksin yang konon katanya mampu membentengi diri dari serangan virus ternyata mampu pula menjebol pertahanan fisik seseorang. Orang yang telah menerima vaksin ternyata masih rentan terhadap serangan virus Covid-19. Sebenarnya tidak ada yang sanggup menghentikan ini semua kecuali hanya kehendak Allah SWT semata. Selama masih punya iman kita harus yakin bahwa ujian ini akan segera berakhir. 

Bagi keluarga kami mungkin dampak secara ekonomi tidak begitu terasa karena kami mempunyai penghasilan tetap, tapi bagi kehidupan lain diluar sana ada sebagian yang justru mendapatkan berkah akibat pandemi namun ada juga yang menjadi hancur gulung tikar tak terkendali akibat mata pencahariannya hilang tak dapat terselamatkan sama sekali. Dilema kebijakanpun ikut mewarnai dalam setiap pengambilan keputusan satu sisi dalih pemulihan dan pertahanan ekonomi tapi sisi lain bahaya kesehatanpun juga menjadi pertimbangan yang sulit untuk bisa disatukan persepsinya. Upaya yang dilakukan pemerintah hanya sebatas mampu mengendalikan selebihnya membutuhkan kecerdasan individu dalam mengambil keputusan. Alih-alih masyarakat mestinya sadar bahwa mencari nafkah juga beribadah itu wajib dan penting namun memperhatikan kesehatan juga jauh lebih penting dalam melindungi jiwa.

Sudah dua lebaran keluarga kami tidak melakukan ritual mudik dan selama pandemi ini belum pernah bersilaturrahmi secara fisik. Rasa kangen yang mebuncah sementara harus kami pendam dalam-dalam, menunggu adanya rambu-rambu hijau menyala dengan jelas dan terang. Kami harus sadar dan harus bisa berdamai dengan situasi, patuh pada anjuran pemerintah memang sudah seharusnya diikuti, meski ada kepentingan pribadi yang belum dapat terpenuhi yakni bersilaturrahmi dengan keluarga sendiri. Sabar dan tawakal menjalani semua ini, dengan harapan bahwa pada suatu hari nanti pasti kami akan dapat kumpul dan dipertemukan kembali dalam suasana yang penuh dengan harmoni saling menyayangi dan mencintai.

Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Surat Edaran Nomor 800/2784/SJ tertanggal 4 Mei 2021 tentang Pelarangan Kegiatan Buka Puasa Bersama Pada Bulan Ramadhan Dan Kegiatan Open House/ Halal Bihalal Pada Hari Raya Idul Fitri 1442 H/ Tahun 2021. Kegiatan buka bersama dimaksud adalah kegiatan buka bersama yang melebihi dari jumlah keluarga inti ditambah 5 (lima) orang selama bulan Ramadhan 1442 H/ Tahun 2021. Bagi Pejabat/ ASN di daerah untuk tidak melakukan open house/ halal bihalal dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1442 H/ Tahun 2021 M. Ternyata bukan hanya mudik yang dilarang namun pemerintah juga membatasi mobilitas masyarakat untuk berkumpul dalam rangka menerapkan 5 M sebagai upaya pencegahan penularan virus agar tidak sampai terjadi lonjakan akibat perayaan hari keagamaan seperti halnya di India. Semoga kita semua sanggup dan mampu menjaga agar penularan dan penyebaran Covid-19 dapat terkendali selama bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri dengan tetap mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, dan tentunya kesadaran kita juga masyarakat yang selayaknya perlu ditingkatkan agar bangsa kita cepat keluar dari pandemi.

Meskipun kegiatan silaturrahmi tertunda, tidak jua mengurangi nikmat dan hikmah dari Ramadhan dan perayaan Idul Fitri pada tahun ini. Apapun yang kita hadapi patut kita syukuri bahwa ternyata raga ini masih dapat menjalankan ibadah puasa dan sholat dengan baik adalah merupakan berkah tersendiri, berarti saat ini kita semua masih diberikan nikmat berupa kesehatan yang tidak ternilai harganya. Salam Sehat… Salam Literasi…


Tulungagung, 4 Mei 2021

#Intokowati

#SahabatPenaKita


Kamis, 15 April 2021

MODERASI BERAGAMA DITENGAH AKSI TEROR

Pemerintah saat ini masih gencar-gencarnya menyerukan Moderasi Beragama, sebenarnya apa yang dimaksud dengan moderasi beragama itu sendiri. Moderasi Beragama adalah sikap dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah (wasathiyah), selalu bertindak adil, berimbang, dan tidak ekstrem dalam praktik beragama. Banyaknya permasalahan yang membawa nama agama dan menjadi pemicu konflik di masyarakat menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah. Isu-isu yang muncul dan berbagai paham keagamaan mewarnai disetiap polemik yang pada akhirnya mengarah kepada SARA (suku, ras dan agama). Jika masyarakat kita sudah berbicara mengenai agama maka sensitivitas muncul dengan berbagai macam asumsi dan praduga sehingga potensi perpecahan akan semakin tampak nyata.

Dengan melihat dan menganalisis bebagai isu yang kerap muncul dan berkembang akhir-akhir ini dan membawa nama agama, maka untuk menghindari adanya perpecahan dan konflik dikalangan masyarakat serta mencegah tindakan yang mengarah ke paham radikal, pemerintah merencanakan Pengarusutamaan Moderasi Beragama (PMB) diusulkan agar terintegrasi menjadi perspektif dalam perencanaan pembangunan nasional, khususnya dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, demi merealisasikan pemajuan kebudayaan di bidang pembangunan sumber daya manusia. Agama dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi salah satu variabel utama dalam mewujudkan misi pembangunan karakter bangsa.

Arah penguatan moderasi beragama dalam RPJMN 2020-2024 adalah penguatan cara pandang sikap dan praktek beragama jalan tengah, penguatan harmonisasi umat beragama, penyelarasan relasi agama dan budaya, peningkatan kualitas pelayanan kehidupan beragama, dan pengembangan ekonomi dan sumber daya keagamaan. Indonesia bukan negara sekuler yang memisahkan agama dari negara dan bukan pula negara yang diatur oleh agama tertentu. Indonesia adalah negara yang kehidupan warga dan bangsanya tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai agama. Karenanya, negara memfasilitasi kebutuhan kehidupan keagamaan warganya sesuai amanah konstitusi. Negara memposisikan diri “in between”: tidak boleh terlalu jauh campur tangan, tapi juga tidak boleh terlalu jauh lepas tangan. Negara berlandaskan dan berorientasi pada nilai-nilai agama, yaitu terwujudnya kemaslahatan bersama menuju kedamaian dan kebahagiaan.

Dua kutub ekstrem dalam beragama, yakni: pertama, kutub yang ekstrem memahami ajaran agama secara harfiyah dan konservatif; dan kedua, kutub yang ekstrem menegasikan pentingnya agama dalam kehidupan individu, bermasyarakat, dan bernegara. Konservatisme ekstrem dalam beragama menjadi bibit lahirnya intoleransi, kekerasan, hingga terorisme dan sejumlah riset menunjukkan bahwa pendidikan agama belum sepenuhnya berhasil menjadikan agama sebagai landasan spiritual, moral, dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berada ditengah-tengah antara sekuler dan radikal memang sulit karena baik dari ektrem kanan dan ekstrem kiri tidaklah dapat bersatu. Munculnya terorisme di Indonesia tentunya tidak hanya berawal dari pemahaman yang radikal saja tapi juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor yang melatarbelakangi aksi teror tersebut. Faktor kemiskinan dan ketidakadilan, Faktor politik dan ketidakpuasan, faktor pemahaman agama yang keliru atau bisa jadi penyalahgunaan ajaran agama yang jauh dari nilai ajaran yang semestinya, faktor lingkungan pergaulan yang berhubungan dengan para pelaku teror, dsb.

Pada penghujung bulan maret tepatnya hari minggu, tanggal 28 Maret 2021 di Gereja Katedral Makasar telah diserang aksi bom bunuh diri yang melukai sekitar 20 orang. Aksi ini dilakukan menjelang umat Kristiani merayakan Paskah dan juga menjelang bulan suci Ramadhan. Sungguh sangat disayangkan ketika umat akan menjalankan ibadah justru dinodai dengan peristiwa yang kurang mengenakkan. Belum genap seminggu menyusul teror di Mabes Polri pada Rabu sore tanggal 31 Maret 2021 yang pelakunya sempat dilumpuhkan dan meninggal dunia. Dari rentetan kejadian tersebut Densus 88 langsung gerilya dengan melakukan penangkapan orang-orang yang diduga terafiliasi dengan kejadian aksi terorisme akhir-akhir ini. Aksi teror seperti ini sangat menodai umat Islam yang akan melakukan ibadah puasa Ramadhan. Seharusnya menjelang pelaksanaan ibadah dibulan suci, umat Islam menjauhkan diri dari perbuatan yang tercela atau perbuatan mungkar.

Dalam ajaran agama manapun aksi kekerasan yang dapat mengancam jiwa dan nyawa tentunya tidaklah dibenarkan. Agama mengajarkan kehidupan yang damai dan saling menyayangi antar sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan. Kelompok yang ektrem dalam memahami agama menghalalkan segala cara dengan dalih melakukan jihad, adapun jihad disini perlu dipertanyakan karena yang mereka perangi kadang bukan hanya umat dari lain agama saja, tapi juga sama-sama pemeluk agama yang sama dengan agama mereka, hanya saja cara pandang dan keyakinan tentang pemahaman beragamanya yang berbeda. Mungkin saja para teroris ini membawa misi tertentu yang bukan saja menebarkan aksi teror dengan mengusung isu agama, akan tetapi ada niat terselubung yang dapat menganggu stabilitas dan keamanan negara. Jika memang seperti itu, berarti agama dijadikan alat untuk mencapai tujuan mereka dan ini yang berbahaya bagi generasi muda kita. Cara memahami ajaran agama harus diluruskan lagi sesuai dengan ajaran yang mereka anut tanpa harus dijejali dengan cara dan pemikiran yang ektrem sehingga otak mereka seperti sudah dicuci hanya dapat menerima dari doktrin yang sudah diberikan kepadanya.

Sikap moderasi beragama harus segera ditanamkan pada masyarakat, karena sikap moderat ini nantinya dapat mempengaruhi cara berpikir dan cara pandang seseorang dalam beragama. Internalisasi nilai-nilai agama agar dapat menjadi landasan spiritual, moral dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menghargai keragaman agama dan tafsir kebenaran

ajaran agama, serta tidak terjebak pada ekstremisme, intoleransi, dan kekerasan. Kementerian Agama mempunyai tanggung jawab yang berat dalam hal melayani umat beragama di tanah air. Indonesia bukan negara yang berdasarkan agama namun melindungi dan harus mampu mengayomi umat dari semua agama, menjaga perdamaian umat sangatlah penting demi terwujudnya kerukunan umat beragama. Menjauhkan perpecahan dalam satu agama dan juga menghomati pemeluk agama lainnya menjadi kata kunci keberhasilan Kementerian Agama dalam melindungi warga negara dari sisi spiritualitasnya.

Harapannya dengan adanya program moderasi beragama ini akan mampu meredam konflik dan isu yang berkembang di masyarakat agar tujuan pemerintah mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baldatun toyibatun wa robbun ghofur dapat tercapai. Wallau a’lam bi showab. Salam Literasi.

Tulungagung, 15 April 2021

#Intokowati

#SahabatPenaKita

Rabu, 24 Maret 2021

INTEGRITAS ASN KEMENTERIAN AGAMA DI UJI DI TENGAH PANDEMI

Tepatnya pada hari Rabu tanggal 17 Maret 2021 Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur memberikan pembinaaan kepada ASN dilingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung yang bertempat di aula MAN 2 Tulungagung sebagai sentral titik zoom meeting secara online dan offline, mengingat situasi masih dalam masa pandemi dan perpanjangan PPKM yang belum berakhir, maka kegiatan di lakukan secara daring. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya selanjutnya MC membuka acara dengan pembacaan surat Al-Fatehah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan do’a. Drs. Masngut, M.Pd.I selaku Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung memberikan ucapan selamat datang kepada bapak Kakanwil sekaligus memberikan kata sambutan secara singkat.

Kasubag TU selaku moderator memandu jalannya acara dengan menyampaikan prolog terkait dengan moderasi beragama. Dalam penyampaian materinya Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur Dr. H. Ahmad Zayadi, M.Pd dalam kata sambutannya menjabarkan tentang tiga hal dalam membangun integritas ASN di masa pandemi Covid-19 adalah sebagai berikut:

  1. Memperkuat tali silaturrahmi
  2. Silatul Afkar
  3. Silatul A'mal

Menurut beliau kita ini harus menyatukan persepsi bahwa kita adalah satu entitas organisasi yang sama, menjadikan organisasi pembelajar. Dari silaturrahmi ditingkatkan menjadi silatul afkar dan pada tahap berikutnya silatul a’mal. Ada kata Agama yang selalu menempel atau melekat pada kita. Membangun Integritas itu harus bisa memahami proses dan ajaran agama. Kita menjadi konteks moderasi beragama yang didalamnya ada Salam, Islam, dan Istislam. Dari sisi Islam sebagaimana terletak diantara dua yaitu antara Salam dan Istislam. Salam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam arti umum kemudian Islam dalam arti khusus. 

Yang perlu di moderasi adalah cara kita beragama, kecenderungan dari pemeluk agama dapat ke kiri atau ke kanan. Terkait dengan Islam yang sangat moderat ini mengandung moderasi beragama yang masuk dalam RPJMN. Hasil akhir dari moderasi beragama itu adalah kerukunan hidup umat beragama. Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap dan perilaku selalu bertindak adil dalam beragama. Ada kelompok minoritas liberal dan ada kelompok minoritas radikal dari keduanya diambil sikap moderat beragama yang senantiasa mengambil jalan tengah. Leading sector penguatan moderasi beragama adalah Kementerian Agama.

Indikator dari sikap yang moderat itu antara lain mempunyai toleransi, anti kekerasan (mampu melakukan mitigasi terhadap konflik), akomodatif dengan budaya lokal. Memperkuat tradisi keagamaan kita, karena inovasi secanggih apapun harus tetap menjaga tradisi dan budaya lokal. Substansi dari kholifatullah itu adalah kreatifitas. Esensi dari abdullah adalah tunduk setunduk-tunduknya dan patuh sepatuh-patuhnya. Kita perlu membekali karakter pada anak didik kita yaitu karakter moral dan karakter kinerja. Karakter moral kaitannya dengan kejujuran dan karakter kinerja kaitannya dengan ketangguhan.

Pandemi Covid-19 bukan menjadi penghalang dalam kita bekerja. Kebijakan kita masih dalam masa PPKM maka tentunya masih menerapkan WFH dan WFO untuk itu sebagai atasan langsung harus bisa mengawasi bawahannya terhadap setiap kinerjanya. Setiap ASN harus memberikan laporan kinerjanya kepada atasannya atas hasil kinerja yang sudah dilakukan selama penerapan masa WFH dan WFO. Disitulah integritas ASN dipertaruhkan untuk selalu bekerja dengan baik dan penuh dengan tanggungjawab. Demikian kurang lebih sambutan dan arahan dari bapak Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur.

 



Tulungagung, 23 Maret 2021

Intokowati

#SahabatPenaKita

Rabu, 17 Maret 2021

IKUT SERTA MENSUKSESKAN PROGRAM VAKSINASI COVID-19

Dua minggu yang lalu tepatnya hari selasa, tanggal 2 Maret 2021 melalui Puskesmas Kecamatan Kedungwaru para karyawan karyawati Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung ikut mensukseskan program pemerintah yaitu program vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan oleh Puskesmas Kedungwaru. Seluruh karyawan karyawati mengikuti dengan penuh antusias dengan harapan setelah menerima vaksin para karyawan karyawati akan lebih terlindungi dari terinfeksi virus Corona. Karyawan perkantoran memang sangat rentan terkonfirmasi karena seringnya berinteraksi dan memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat. 

Di mulai dari pukul 08.00 WIB antrian panjang sudah memenuhi ruang tunggu Puskesmas Kedungwaru untuk gelombang pertama sampai dengan pukul 09.00 WIB  dilanjutkan gelombang kedua selang satu jam sampai dengan gelombang ke empat yang berakhir sampai pukul 12.00 WIB. Setelah seluruh karyawan selesai melakukan vaksinasi giliran berikutnya acara tambah imun dengan makan siang bersama di aula kantor agar badan lebih vit setelah menerima vaksin. Menurut beberapa penuturan dari rekan-rekan bahwa efek dari vaksin menimbulkan rasa lapar dan mengantuk, rasanya memang cocok setelah divaksin langsung disediakan makan. Reaksi yang dialami akibat menerima vaksin Covid-19 mungkin sangat beragam ada yang demam, ada yang ngantuk, ada juga yang terasa lapar. 


antri menunggu panggilan

Menurut kabar yang beredar bahwa tingkat kekebalan tubuh setelah menerima vaksin baik tahap satu maupun vaksin tahap dua belum sepenuhnya mencapai 100% bisa kebal dan dapat terhindar dari serangan virus, namun setidaknya akan mampu menekan bekerjanya virus sehingga melemah tidak menimbulkan gejala yang serius terhadap pasien yang terinfeksi. Vaksin yang dimasukkan kedalam tubuh kita akan membentuk antibodi untuk menahan serangan virus dari luar yang menjadi benteng pertahanan didalam tubuh kita. Virus dengan varian baru juga bermunculan, kata para ahli virus mengalami mutasi gen sehingga membentuk varian jenis baru yang kinerja serangannya juga lebih ampuh dibading virus awalnya. Sebagai orang awam dan memang bukan ahlinya, sebenarnya kita hanya menerima informasi dari berbagai media massa baik media online, media cetak maupun media elektronik yang membahas tentang hal itu.

Sepertinya kita tidak perlu terlalu khawatir dengan berbagai isu yang berkembang, bahwasannya sebagai seorang muslim harus percaya bahwa Tuhan menciptakan penyakit pasti ada obatnya, dan juga menguji manusia sesuai dengan batas kemampuannya. Hanya saja manusia kadang lupa bersyukur ketika diberikan nikmat kesehatan, padahal sejatinya bahwa sehat itu mahal harganya. Sebagai hamba Allah diwajibkan untuk selalu berusaha, berdo’a dan tawakal agar kita tetap tenang dalam menghadapi setiap cobaan. Berusaha untuk selalu menjaga kesehatan dan kebersihan, berdo’a agar senantiasa terhindar dari bencana dan malapetaka serta tawakal pasrah kepada Allah sang maha pencipta.


Setelah vaksinasi tahap pertama

Semestinya hari ini tanggal 16 Maret adalah waktunya kami para karyawan karyawati Kemenag untuk menerima vaksin tahap dua, berhubung dalam dua hari kedepan ada kegiatan maka kegiatan vaksin dilaksanakan tanggal 18 Maret 2021 dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Mari kita sukseskan program vaksin semoga bangsa Indonesia segera dapat keluar dari bencana pandemi Covid-19 untuk menuju masyarakat yang sehat produktif. Salam sehat dan Salam Literasi.


Tulungagung, 26 Maret 2021


Intokowati

#SahabatPenaKita