
Sejak bergabung dengan
group Komunitas Literasi Tulungagung pada tanggal 28 Mei 2018 keinginan untuk
menulis mulai tumbuh, diawali dengan pertemuan anggota di gedung Pasca Sarjana
IAIN Tulungagung menjelang buka puasa Ramadhan. Dr. Ngainun Naim sebagai sang
penggiat literasi menyampaikan beberapa hal dan pengalaman dalam menulis,
beliau sebagai mentor kami mengajak agar para mahasiswa punya keinginan dan
mampu membuat tulisan dalam bentuk apapun, bisa artikel, puisi, esay, jurnal
maupun tulisan yang lain. Ada beberapa hal yang biasa dialami para pemula
ketika menulis; pertama bingung menentukan topik bahasan apa yang hendak
ditulis, kedua ketika dalam proses menulis tiba-tiba kehabisan ide akhirnya
berhenti tidak melanjutkan kembali tulisannya, ketiga semangat menulis tidak
stabil kadang sangat semangat dan produktif menulis, tapi kadang timbul rasa
malas sehingga berhenti menulis. Kondisi seperti ini biasa dialami oleh seorang
penulis, apalagi masih pada tarap belajar, sangat manusiawi sekali.
Untuk menjaga agar
tetap istiqomah menulis bapak Dr. Ngainun Naim selalu mengingatkan tanpa henti,
tanpa mengenal lelah dan putus asa kepada seluruh anggota group yang tergabung
dalam Komunitas Literasi tersebut agar setor tulisan, namun belum semua anggota
bisa setor tulisan akhirnya dibuatkan komitmen kepada seluruh anggota agar
dapat setor tulisan wajib seminggu sekali. Awalnya memang terasa berat tapi
karena adanya tuntutan akhirnya menjadi terbiasa dan ini yang mampu meningkatkan
semangat para anggota untuk rajin menulis walaupun hanya seminggu sekali.
Kemudian setelah berdiri group Sahabat Pena Kita Tulungagung gelora menulis
mulai muncul dan semangat para anggota dalam menulis mulai tumbuh, setiap hari
beberapa tulisan mulai menghiasi beranda group WA SPK Tulungagung, sepertinya
ada perubahan besar dalam dunia karya tulis. Ide membuat buku Antologi terus
bergulir semuanya masih dalam proses finishing, sebentar lagi akan ada beberapa
buku yang terbit. Itu semua menjadi spirit bagi seluruh anggota untuk terus
berkarya dan menghasilkan tulisan-tulisan yang bagus dan bermutu.
Berawal dari penulisan
buku antologi tersebut ada beberapa keinginan yang muncul dibenak ini sekiranya
dapat menulis sebuah buku karya sendiri alangkah senang dan bahagianya hati.
Sampai saat ini masih merupakan sebuah mimpi atau sekedar obsesi, pun begitu
tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari nanti pastilah bisa menulis sebuah
buku hasil dari karya dan tulisan pena sendiri. Kalau benar impian tersebut menjadi
nyata mungkin dapat menjadi suatu suntikan dan vitamin tersendiri dalam dunia
tulis menulis. Menulis bukan menjadi sebuah obsesi atau sekedar mimpi lagi,
melainkan sudah menjadi budaya atau tradisi. Membiasakan menulis harus
dibarengi dengan komitmen yang tinggi supaya tetap istiqomah.
Sebenarnya keinginan
memiliki sebuah buku dari hasil karya sendiri tidak harus yang berbobot dan
benilai tinggi, sekedar hanya menulis pengalaman pribadi atau berupa autobiografi
diri sendiri. Kelihatannya sangat mudah karena yang ditulis adalah peristiwa
atau kisah yang pernah kita alami, namun sepertinya tidak semudah apa yang kita
banyangkan. Menulis membutuhkan pemikiran dan rangkaian kata-kata yang indah
serta dapat dimengerti oleh si pembaca. Menarik minat orang untuk membaca
dibutuhkan trik dan tehnik tersendiri. Judul, gaya bahasa, intonasi, isi yang
terkandung di dalam buku sangat berpengaruh pada orang lain untuk memahaminya. Biarkan
ide dan gagasan menulis mengalir begitu saja, tanpa adanya tekanan atau perasaan
tertentu sehingga mempengaruhi bobot dan makna tulisan itu sendiri. Menulis
dengan perasaan dan emosi akan mampu menciptakan karakter tersendiri dalam
tulisan kita, corak dan warna yang khas nantinya dapat dirasakan oleh pembaca.
Pengalaman pribadi ketika
menulis kadang timbul rasa jenuh dan malas untuk melanjutkan kembali, kalau
kondisinya sudah seperti ini maka motivasi untuk menulis bukan hanya dari orang
lain melainkan dari dalam diri sendiri. Menumbuhkan kembali motivasi dalam diri
sendiri rasanya cukup sulit kalau tidak dibarengi dengan kekuatan dan keyakinan
bahwa menulis itu mudah, dan banyak manfaat yang akan bisa kita ambil dari
proses menulis. Seorang penulis tentunya sering membaca, karena dengan membaca
banyak ide atau gagasan dan pengetahuan yang didapat sehingga mampu menambah
referensi tulisan. Cara pandang dan pemikiran orang lain dapat menjadi
inspirasi bagi diri kita, setidaknya ada informasi, pengetahuan, pengalaman,
tranformasi pemikiran ataupun ilmu yang akan kita terima. Tetapi kadang kala
terlalu banyak membaca juga malah menjadi semakin bingung, pendapat mana yang
sekiranya cocok dengan karakter kita. Masing-masing tulisan satu dengan yang
lainnya pastilah tidak sama, ada perbedaan yang dapat dilihat ketika kita
membacanya, entah pada kekuataan kata-katanya, hubungan narasinya, gaya
bahasanya yang menjadi karakteristik dan ciri khas dari tulisan itu sendiri.
Obsesi menulis sebuah
buku tentang autobiografi diri sendiri kadang sering muncul di pikiran ini
sekiranya kapan dapat memulainya, mungkin butuh waktu dalam menyusun bait kata
mencoba mengkaitkan peristiwa satu dengan yang lainnya, menceritakan masa lalu
mulai kecil hingga dewasa bahkan sampai menjadi tua. Rasanya seperti memutar
waktu untuk kembali mengingat apa yang pernah dialami puluhan tahun silam,
beberapa kisah dan peristiwa akan tertumpahkan lewat goresan pena. Meskipun
tidak terlalu mengingat masa kecil dengan jelas namun masih ada beberapa
peristiwa yang tetap tergiang dan membekas dihati. Kalaupun sudah menjadi
sebuah buku mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain, akan tetapi sangat
penting bagi saya agar kelak anak cucu dan generasi penerus keturunan saya
dapat membaca buku itu sebagai warisan budaya agar tetap dapat mengingat
perjalan dan perjuangan hidup neneknya dimasa lampau.
Rangkaian peristiwa
pahit dan manis akan menghiasi lembar demi lembar buku yang akan saya tulis
lewat goseran pena sendiri tidak lewat penuturan dan ditulis oleh penulis lain.
Gaya bahasa dalam tulisan nantinya mengikuti ritme dan alur pikiran sendiri
tidak ada unsur menambah atau mengurangi inti cerita, tidak ada gaya bahasa
hiperbola maupun personifikasi karena semua cerita nyata ada. Memakai bahasa
lugas dan sederhana lebih tepat karena yang ditulis adalah kisah tentang diri
sendiri jadi tidak mungkin orang lain memberikan kritikan, saran, ataupun
masukan seperti halnya tulisan jurnal maupun karya ilmiah lainnya. Tulisan kita
bagian dari cerminan diri kita pula, baik secara langsung maupun tidak langsung
bahwa perasaan, emosi, improfisasi semua itu dapat mempengaruhi makna dan inti
dari setiap karya. Tulisan itu bagaikan karya seni, alurnya mengikuti irama
hati, apa yang tertuang pada goresan pena kita itulah gambaran dari ide,
gagasan, pikiran, perasaan yang muncul dari dalam diri.
Menulis autobiografi
diri sendiri tidak membutuhkan referensi, tidak ada tekanan, tidak perlu
menjadi plagiator narasi, karena kisah hidup seseorang tidaklah sama, kalaupun
ada persamaan hanya sedikit saja tidak mungkin keseluruhan dari isi persis sama.
Rasanya akan sangat bebas dan leluasa dalam menorehkan kata demi kata, apa yang
ada dalam pikiran langsung tertuang disana. Pengalaman masa kecil begitu
menyenangkan bermain dengan teman-teman sebaya menjadi pembelajaran dan
bernilai sosial yang tinggi, permainan tempo dulu sudah sangat berbeda jauh
dengan permainan anak-anak dimasa kini, bahasa gaulnya (Kids Jaman Now).
Permainan pada masa kecil saya sangatlah sederhana namun banyak menguras fisik,
seperti permainan gobak sodor, congklak, lompat tali, engklek, gasing, kejar
kejaran, sembunyi sembunyian dan beberapa jenis permainan yang lain yang banyak
membutuhkan Gerakan tubuh kita.
Anak-anak jaman dulu
fisiknya jauh lebih kuat dibandingkan anak jaman sekarang, pembetukan karakter
dan ketahanan fisiknya masih alami, kesenangan dan keceriaan dalam bermain
sangatlah tergambar jelas melalui canda tawanya yang lepas, jiwa sosialpun
secara tidak langsung juga terbentuk dengan sendirinya. Makanan mereka juga
seadanya, belum ada jajanan beraneka ragam seperti sekarang, mangga mentah
punya tetangga kadang juga rame-rame memakannya, tidak ada raut muka merasakan
masamnya buah mangga muda, kedondong atau buah-buahan sejenisnya. Untuk
mendapatkannya saja kadang menunggu kalau ada yang jatuh akibat angin besar
yang bertiup, mereka rebutan untuk menikmatinya. Sungguh masa kecil yang sangat
mengesankan berbeda jauh dengan masa kecil anak sekarang, mereka main game
lewat hp, lebih bersikap individu dan menyendiri di kamar, main robot-robotan,
boneka, dan sejenis mainan yang tidak banyak membutuhkan aktifitas dalam
bergerak, mereka cenderung menjadi malas, pingin semuanya instan dan serba
tergesa-gesa.
Cerita masa lalu memang
sangatlah indah untuk dikenang, teman-teman sepantaran dengan saya juga sudah
pada tua dan sudah banyak yang mempunyai cucu. Generasi anak dan generasi
berikutnya sudah lain pula pengalamannya, mungkin orang tua banyak menceritakan
kisah hidupnya dengan anak-anak dan cucu-cucunya lewat penuturan cerita. Biar
terlihat sedikit berbeda dengan yang lainnya, saya akan mencoba menceritakan
kisah hidup lewat tulisan agar kelak mereka dapat membacanya. Menanamkan budaya
menulis untuk generasi kita supaya ketajaman berpikirnya lambat laun dapat
terasah dengan banyak membaca dan menulis. Dalam kisah juga akan saya sisipkan
beberapa motivasi dalam kehidupan, motivasi belajar, motivasi untuk sukses, dan
tak lupa motivasi untuk membaca dan menulis. Menumbuhkan semangat untuk
berkarya bagi generasi penerus. Mereka semua dapat mencontoh prilaku yang baik
dari neneknya melalui membaca buku autobiografi yang dimilikinya, anggap saja
sebagai hadiah terindah bahkan ketika sang nenek sudah tutup usia akan menjadi
warisan bersejarah yang tak ternilai harganya.
Rencana penulisan buku
autobiografi ditulis ketika ada waktu luang dan senggang sehingga insprirasi
menulis dapat muncul mengalir begitu saja, Jika kondisi lagi bad mood maka alur
pikiran menjadi amburadul sehingga tulisan akan menjadi kurang bagus ketika
orang lain membacanya. Meski masih dalam tataran obsesi namun insyaallah akan
segera dapat terealisasi tergantung bagaimana kesungguhan dan komitmen dalam
menulis masih tetap tinggi, yang terpenting adalah meluruskan niat sehingga
apapun itu, jika diawali dengan niat yang baik maka akan menjadi baik pula
hasilnya. Mencoba menulis buku outobiografi seperti menulis buku diary,
pokoknya asal menulis saja peristiwa apa yang pernah dialami, mengenai panjang
dan pendeknya tergantung dari pengembangan cerita.
Akan sangat bangga dan
bahagia jika suatu saat nanti buku autobiografi yang saya tulis itu akan
benar-benar terbit, sehingga dapat memotivasi diri untuk membuat karya-karya
yang berikutnya. Obsesi dan impian menulis bukan hanya dalam angan-angan belaka
akan tetapi benar dan nyata adanya. Sungguh amat senang dan gembira membayangkan
nantinya dapat menulis buku hasil dari karya sendiri, yang paling pokok dan
terpenting adalah terus giat berlatih menulis karena dengan banyak latihan maka
akan menjadi terbiasa. Kalau sudah terbiasa menulis dan menjadi tradisi maka
akan sangat sulit untuk meninggalkannya, serasa ada beban berat ketika kita
tidak ada waktu dan kesempatan untuk menulis. Semoga apa yang menjadi impian
dan obsesi dalam menulis buku karya sendiri akan terlaksana dan benar-benar
terwujud nyata.
Salam Literasi
Tulungagung, 19 Oktober
2020
Intokowati
-------------------------------------------------------------------------------
Menulis Buku
Undangan Menulis Antologi Buku
Masing-masing kita pasti memiliki tujuan dan alasan mengapa memutuskan diri untuk bergabung dengan WhatsApp grup Sahabat Pena Kita (SPK) Tulungagung. Di antara sekian alasan dan tujuan itu salah satunya ialah bercita-cita mampu menulis buku dan memiliki karya. Dalam rangka memotivasi diri dan mengabadikan semua alasan dan tujuan itu, kami mengundang Bapak Ibu sekalian untuk berkontribusi menulis yang akan kita terbitkan menjadi buku antologi. Buku ini diharapkan bisa terbit di penghujung tahun ini. Adapun ketentuannya adalah :
- Topik: "Menulis Buku".
- Tulisan bebas. Boleh tentang cita-cita menulis buku, mimpi menulis buku, bayangan menulis, strategi menulis, atau apapun tentang menulis buku.
- Panjang tulisan maksimal 5 halaman huruf Times New Roman spasi 1,5.
- Struktur tulisan: judul, nama penulis, isi tulisan, biodata singkat.
- File dikirim dengan format: Nama Penulis_Judul tulisan, Contoh: Muhammad Fahmi_Menulis Buku Adalah Mimpiku.
- Tulisan dikirimkan ke WA (atas nama Zidna): 085606662005
- Batas akhir penerimaan tulisan: 15 Oktober 2020.
- Kontribusi 100 Ribu, mendapatkan 1 eksemplar buku ber-ISBN. Jika ingin pesan lebih 1, per buku menambah 50 ribu.
Nb: Kontribusi 100 Ribu diambil dari iuran bulanan selama 4 bulan. Bagi yang belum genap 4 bulan, silakan membayar iuran ke bendahara.
BRI 6590 0103 7225 537
an. Fahmi Muhammad
Ttd
PH SPK Tulungagung